29.5 C
Medan
Selasa, April 13, 2021

Masyarakat Diimbau Waspada Investasi Bodong

- Advertisement -
- Advertisement -

SumutBisnis – Medan, Masyarakat diimbau untuk waspada jika ditawari instrument investasi yang menjanjikan imbal hasil tinggi. Bisa jadi mereka sedang menjadi target investasi bodong.

Korban investasi bodong biasanya akan dipikat bunga investasi yang tinggi pada awal berinvestasi. Tapi, saat hendak menarik modalnya prosesnya sulit bahkan sampai tidak bisa.

“Banyak juga investasi bodong yang belum terungkap di publik, termasuk mereka yang memiliki kedok Multi-Level Marketing atau MLM,” kata Pakar Pasar Modal Indonesia, Liyanto Sudarso CSA,  Selasa (23/3).

Menurut dia korban investasi bodong cukup banyak di Indonesia. Tahun lalu sebelum Covid-19 melanda dunia, Indonesia sempat digemparkan dengan banyaknya kasus gagal bayar bermacam instrument investasi yang berwujud surat utang, reksa dana, saham, emas, asuransi yang menyeret nama institusi-institusi besar terkenal di Indonesia bahkan BUMN sekalipun.

Diterangkan Liyanto lagi investor adalah makhluk rasional, wajar mereka ingin mendapatkan imbal hasil yang setinggi-tingginya dari investasi yang dipercayakan kepada sebuah institusi investasi. Sayangnya mereka lupa, instrument investasi yang menawarkan imbal hasil tinggi datang dengan risiko tinggi juga. “Sesuai filosofi investasi yang terkenal, yaitu ‘High Risk High Return’,” tambahnya.

Liyanto, yang juga Wakil Manajer Investasi (WMI), Fund Manager dan Juga Co-Founder dari perusahaan Penasihat Investasi, PT Wahana Tumbuh Investasi, menyarankan “Tiga Check List” untuk sebuah instrument investasi agar investor dapat menentukan apakah sebuah produk investasi sebenarnya berbahaya atau tidak.

Pertama, kata Liyanto, apakah produk investasi tersebut menawarkan pokok investasi yang aman atau disebut Credit Risk. Kedua, Apakah produk investasi tersebut menawarkan imbal hasil yang nyaman atau Inflation Risk, dan ketiga apakah produk investasi tersebut gampang dicairkan pokoknya atau Liquidity Risk.

“Saat mendapatkan penawaran produk investasi dari seseorang, pertanyaan pertama yang harus ditanyakan adalah apakah uang yang menjadi pokok dari nilai investasi tersebut berpotensi untuk berkurang atau bahkan hilang menjadi nol di dalam perjalanan investasi? Contohnya, jika berinvestasi pada saham dan salah memilih emiten, bisa saja nilai investasi menjadi nol,” jelasnya.

Kemudian, lanjutnya, jika orang yang menawarkan investasi tersebut mengatakan nilai pokok investasi akan aman-aman saja, maka pernyataan kedua adalah berapa potensi imbal hasil yang akan diberikan dari produk investasi tersebut.

“Nah, di sini sebagai investor sudah bisa mulai melihat apakah produk ini rasional atau tidak. Produk investasi yang menjamin kemanan pokok investasi nasabah lebih aman biasanya tidak akan memberikan imbal hasil yang terlalu tinggi,” sebut Liyanto lebih jauh.

Terkait hal itu, Liyanto memberikan contoh, yaitu deposito bank sekelas bank papan atas yang sangat prudent dan tidak sembarangan memberikan imbal jasa tinggi melebihi  lembaga penjaminan simpanan (LPS)

“Jika imbal hasil yang ditawarkan terlalu tinggi, nasabah sudah harus sudah mulai curiga. Apalagi produk investasi tersebut tidak transparan,” tutur Liyanto.

Untuk mengetahui apakah imbal hasil yang ditawarkan masih masuk akal atau tidak, masabah bisa mencari tahu perbandingan produk investasi sejenis di tempat lainnya. Dijelaskan Liyanto lagi, satu diantara produk investasi yang terseret kasus gagal bayar di akhir tahun 2019 sampai awal 2020 adalah dalam bentuk reksa dana saham.

Menurut dia, banyak investor yang tergoda pada satu jenis reksa dana yang memberikan imbal hasil pasti dalam setahun yang bekisar antara sembilan persen sampai 12%. Padahal saat itu kondisi pasar saham sedang tidak begitu bullish. 

“Sebagai investor harus mulai bertanya bagaimana itu bisa terjadi? Sayangnya banyak investor yang tidak berfikir dan menanyakan, tapi malah memuji-muji reksa dana tersebut. Sampai terakhir semua faktanya terbongkar dan investor harus gigit jari menunggu proses PKPU dari pengadilan,” terangnya.

Pertanyaan terakhir yang harus ditanyakan adalah seberapa mudah uangnya untuk dicairkan menjadi cash saat membutuhkan. Investasi yang menawarkan imbal hasil tinggi dan menjamin pokoknya tidak akan hilang, dan biasanya tidak akan mudah untuk dicairkan sampai ada investor baru yang masuk menggantikan.

“Semua berjalan dengan lancar saat investasi yang berjalan dengan skema ‘Money Game’ ini masih laku untuk dipasarkan. Semua akan berakhir saat sedikit tersentil berita negatif atau terjadi penarikan besar-besaran pada produk investasi tersebut, yang dapat mengakibatkan gagal bayar seperti yang sudah terjadi,” sebut Liyanto.

Terakhir, Liyanto menuturkan, dari semua penjabaran di atas, jangan lupa sebagai investor harus memastikan kalau produk yang diinvestasi, yang ditawarkan sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Sekali lagi, tidak mungkin ada produk investasi di dunia ini yang memiliki tiga fitur kenyamanan di atas secara bersamaan, yaitu pokok investasi aman, imbal hasil tinggi, dan pokok investasi mudah dicairkan. Jika ada, mungkin ada beberapa hal yang tidak diberitahukan secara transparan,” tandasnya. ***

- Advertisement -

Latest news

Astra Daihatsu dan Astra Otoparts Perkuat Sinergi Value Chain di Medan, Tembus 30.000 Unit Kwartal I 2021

SumutBisnis - Medan, Astra Daihatsu bersama Astra Otoparts-Shop&Drive memperluas Program Value Chain dengan meluncurkan Promo Paket Service Hemat di Medan, Padang, Lampung, dan Jepara....
- Advertisement -

Kemenparekraf – BCA Melalui Wisata Award, Ajak Desa Wisata Tingkatkan Kreativitas

SumutBisnis - Medan, Ditengah imbas Covid-19, sektor pariwisata tetap berupaya bertahan. Sebelumnya, saat kondisi normal, sejumlah desa wisata terbukti dapat mendatangkan ratusan wisatawan lokal...

Kian Canggih dengan Qualcomm® Snapdragon™ 888

SumutBisnis - Medan, Qualcomm® Snapdragon™ 888 5G Mobile Platform, chipset unggulan terbaru yang akan menjadi tolok ukur bagi perangkat smartphone pada tahun 2021.Chipset...

Bank DBS Indonesia Kerjasama Investasi Baru Dengan Manulife

SumutBisnis - Medan, Bank DBS Indonesia dan Manulife Indonesia kembali mengukuhkan komitmennya dalam memenuhi kebutuhan keuangan nasabah yang semakin berkembang. Hari ini, Kamis (08/04/2021) Bank...

Related news

Astra Daihatsu dan Astra Otoparts Perkuat Sinergi Value Chain di Medan, Tembus 30.000 Unit Kwartal I 2021

SumutBisnis - Medan, Astra Daihatsu bersama Astra Otoparts-Shop&Drive memperluas Program Value Chain dengan meluncurkan Promo Paket Service Hemat di Medan, Padang, Lampung, dan Jepara....

Kemenparekraf – BCA Melalui Wisata Award, Ajak Desa Wisata Tingkatkan Kreativitas

SumutBisnis - Medan, Ditengah imbas Covid-19, sektor pariwisata tetap berupaya bertahan. Sebelumnya, saat kondisi normal, sejumlah desa wisata terbukti dapat mendatangkan ratusan wisatawan lokal...

Kian Canggih dengan Qualcomm® Snapdragon™ 888

SumutBisnis - Medan, Qualcomm® Snapdragon™ 888 5G Mobile Platform, chipset unggulan terbaru yang akan menjadi tolok ukur bagi perangkat smartphone pada tahun 2021.Chipset...

Bank DBS Indonesia Kerjasama Investasi Baru Dengan Manulife

SumutBisnis - Medan, Bank DBS Indonesia dan Manulife Indonesia kembali mengukuhkan komitmennya dalam memenuhi kebutuhan keuangan nasabah yang semakin berkembang. Hari ini, Kamis (08/04/2021) Bank...
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here